Selasa, 12 Mei 2015

I’m sorry, good bye :)



Bagiku, semua itu hanya ilusi. Khayalan tingkat tinggi yang tak akan pernah menjadi kenyataan. Memilikimu adalah suatu asa yang tak mungkin terengkuh, bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku hanya figuran yang dicari saat kamu butuh. Aku hanya wanita biasa, banyak kekurangan, buat pelarian yang disia-siakan begitu saja. aku hanya seperti bagian film yang ‘di buang sayang’ nya saja. Tak akan pernah menjadi bagian inti filmnya. Tetap dia, inti filmnya. Tetap dia yang utama bagimu. ah sudahlah. Tak perlu di bahas lagi. Memang hanya persepsiku saja yang melebih-lebihkan segalanya. Terlalu cepat menyimpulkan perhatianmu. Segalanya akan membaik jika kita terus mencoba, melupakan juga. Aku pasti bisa jika aku berlatih, kan ? maka dari itu, hari dimana aku sadar bahwa kamu mulai berubah, aku yang terlalu berharap lebih sedangkan kamu tetap terfokus pada wanitamu, aku yang lancang menembus tembok persahabatan, aku yang memendamnya dan berjuang sendirian mematikan perasaan selama 3 tahun tetapi malah semakin kuat, aku yang.. ah, terlalu banyak aku, iya memang aku yang terlalu banyak berusaha. Sedangkan dia, wanitamu. Tak memerlukan tenaga banyak untuk mendapatkanmu, tak memerlukan hati yang bekerja keras menangis dan berjuang, dia sudah mendapatkan semua cintamu tanpa kekurangan sedikitpun. bahkan ketika wanitamu bersikap cuek dan tak acuh, kamu tetap berjuang. Dan akhirnya aku hanya bisa melihat dari jauh, perjuanganku hanya sebatas ekspektasi, tanpa hasil apapun. Memang kadang hidup bisa selucu itu, yang berjuang tak mendapatkan apa-apa sedang yang biasa saja malah mendapatkan banyak. Disitulah hati berperan, ketulusan cinta di uji, dan aku menyadari, mencintai seseorang itu dengan hati, bukan dengan perasaan. Karena perasaan akan mudah hilang, apalagi yang bersifat menggebu-gebu dan cenderung melihat dari fisik atau luarnya saja, itu yang menyebabkan mudah terputusnya suatu hubungan. Sedangkan hati lebih bisa menerima apa adanya dan tulus sehingga akan lebih bisa bertahan lama serta lebih mudah ikhlas jika perasaan kita tak terbalaskan karena yang terpatri dalam hati adalah mencintainya bukan memilikinya. Hati lebih bisa mengalahkan ego dan perasaan lebih mementingkan ego.
Namun semakin lama aku bertahan, semakin menyakitkan. Kamu semakin keterlaluan menyakitiku. Perlu aku jelaskan, aku sakit hati bukan karena kamu tidak membalas perasaanku, melainkan karena semua perhatianmu yang lebih dari seorang sahabat. karena kamu kembali kepadanya, kepada wanitamu, setelah kamu memberi peluang dan harapan yang besar kepada hatiku untuk terus maju dan bertahan mencintaimu. Ingat, wanita itu terlalu besar harapannya bahkan kepada hal yang tidak pasti sekalipun. Dan ternyata, mencintai terlalu dalam sama saja dengan penyakit. Dalam kebimbangan itu, akhirnya aku memutuskan bangkit. Bukan melupakanmu, aku hanya menempatkanmu di pikiran paling akhir hingga nyaris tak pernah teringat lagi. Bukannya aku menyerah, tapi akhirnya aku sadar bahwa sebenarnya, dari awal kamu memang tidak pernah bisa aku menangkan. Aku sadar, aku hanya melihat ke arahmu tanpa mempedulikan banyak seseorang yang memprihatinkanku dari belakang, mempedulikanku melebihi dirinya sendiri. Sampai aku mati rasa, seperti kehilangan selera untuk mencintai siapapun lagi. Aku terlalu sibuk menutup hati dan menguncinya sampai mengabaikan orang-orang yang berniat membuka hati itu kembali dan bersedia menutup luka yang menganga akibat ulahmu itu. Walau kamu berniat kembali, bukan untuk memilikiku tapi untuk memperbaiki persahabatan kita yang retak karena perasaan bodoh yang aku rasakan, perasaan yang tak seharusnya ada dan tumbuh dalam persahabatan, perasaan lebih dari seorang sahabat, sekeras apapun kamu memperbaikinya, hal yang membuat sakit hati tidak akan pernah bisa kembali seperti awal. Aku membencimu tapi aku juga masih mencintaimu.
Sampai pada akhirnya, aku bertemu seseorang, dengan pertemuan yang tak terduga, mungkin itu jalan dari tuhan untuk mempermudah aku melupakanmu, agar aku tak terlalu payah saat bangkit. itu adalah kebetulan yang indah. Tidak, tidak ada kebetulan. Itu takdir yang sudah diatur tuhan. Cara tuhan mengatakan bahwa kamu tidak pantas untukku, atau aku yang tidak pantas untukmu. Yang jelas, kita tidak ditakdirkan menyatu. Selama 3 tahun ini, banyak yang berusaha membuka hatiku, namun tak seorangpun yang mempunyai kunci yang cocok dengan gembok hatiku. dia yang mempunyai kunci yang cocok dengan gembok itu dan membukanya dengan perlahan tapi pasti, menutup lukanya sampai sekarang sudah hampir sembuh. Ya memang belum sepenuhnya sembuh, Tapi setidaknya dia sudah berjuang mendapatkanku, sudah berusaha keras membuatku tersenyum dan bahagia, dia yang membantu aku bangkit sampai aku bisa berdiri lagi, membuat aku percaya akan laki-laki dan percaya cinta lagi. Ya, mungkin memang untuk wanita lebih baik dicintai daripada mencintai. Dia mencintai aku dengan sepenuh hatinya. dia seperti malaikat pengganti yang dikirimkan tuhan untukku. Dia adalah alasan untuk memulai semuanya dari awal lagi. Aku bersyukur memilikinya. Ternyata membuka hati tak semenakutkan yang aku bayangkan, ternyata membuka hati membuat aku bisa lebih bahagia. Kita saling melengkapi kekurangan, saling mendukung satu sama lain, dan dia menghargai aku sebagai seorang wanita. Tidak overprotective, tak saling menuntut dan tetap berjalan beriringan meraih cita-cita bersama. Tetap memberi kebebasan kepadaku untuk beteman dengan siapa saja asalkan tau batasannya, tau hatiku milik siapa. Aku pun begitu. Sederhana namun indah. aku berusaha mencintai dengan hati bukan perasaan. Dia menjadi malaikat pengganti yang sekarang ada di hatiku dan kamu tetap jadi teman namun keadaannya tidak akan bisa seperti dulu, tak seakrab dulu. cukup mengenalmu dan berkomunikasi secukupnya. I’m sorry, good bye :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar