Bagiku,
semua itu hanya ilusi. Khayalan tingkat tinggi yang tak akan pernah menjadi
kenyataan. Memilikimu adalah suatu asa yang tak mungkin terengkuh, bahkan dalam
mimpi sekalipun. Aku hanya figuran yang dicari saat kamu butuh. Aku hanya wanita
biasa, banyak kekurangan, buat pelarian yang disia-siakan begitu saja. aku
hanya seperti bagian film yang ‘di buang sayang’ nya saja. Tak akan pernah
menjadi bagian inti filmnya. Tetap dia, inti filmnya. Tetap dia yang utama
bagimu. ah sudahlah. Tak perlu di bahas lagi. Memang hanya persepsiku saja yang
melebih-lebihkan segalanya. Terlalu cepat menyimpulkan perhatianmu. Segalanya
akan membaik jika kita terus mencoba, melupakan juga. Aku pasti bisa jika aku
berlatih, kan ? maka dari itu, hari dimana aku sadar bahwa kamu mulai berubah,
aku yang terlalu berharap lebih sedangkan kamu tetap terfokus pada wanitamu,
aku yang lancang menembus tembok persahabatan, aku yang memendamnya dan
berjuang sendirian mematikan perasaan selama 3 tahun tetapi malah semakin kuat,
aku yang.. ah, terlalu banyak aku, iya memang aku yang terlalu banyak berusaha.
Sedangkan dia, wanitamu. Tak memerlukan tenaga banyak untuk mendapatkanmu, tak
memerlukan hati yang bekerja keras menangis dan berjuang, dia sudah mendapatkan
semua cintamu tanpa kekurangan sedikitpun. bahkan ketika wanitamu bersikap cuek
dan tak acuh, kamu tetap berjuang. Dan akhirnya aku hanya bisa melihat dari
jauh, perjuanganku hanya sebatas ekspektasi, tanpa hasil apapun. Memang kadang
hidup bisa selucu itu, yang berjuang tak mendapatkan apa-apa sedang yang biasa
saja malah mendapatkan banyak. Disitulah hati berperan, ketulusan cinta di uji,
dan aku menyadari, mencintai seseorang itu dengan hati, bukan dengan perasaan.
Karena perasaan akan mudah hilang, apalagi yang bersifat menggebu-gebu dan
cenderung melihat dari fisik atau luarnya saja, itu yang menyebabkan mudah
terputusnya suatu hubungan. Sedangkan hati lebih bisa menerima apa adanya dan
tulus sehingga akan lebih bisa bertahan lama serta lebih mudah ikhlas jika
perasaan kita tak terbalaskan karena yang terpatri dalam hati adalah
mencintainya bukan memilikinya. Hati lebih bisa mengalahkan ego dan perasaan
lebih mementingkan ego.
Namun
semakin lama aku bertahan, semakin menyakitkan. Kamu semakin keterlaluan menyakitiku.
Perlu aku jelaskan, aku sakit hati bukan karena kamu tidak membalas perasaanku,
melainkan karena semua perhatianmu yang lebih dari seorang sahabat. karena kamu
kembali kepadanya, kepada wanitamu, setelah kamu memberi peluang dan harapan
yang besar kepada hatiku untuk terus maju dan bertahan mencintaimu. Ingat,
wanita itu terlalu besar harapannya bahkan kepada hal yang tidak pasti
sekalipun. Dan ternyata, mencintai terlalu dalam sama saja dengan penyakit. Dalam
kebimbangan itu, akhirnya aku memutuskan bangkit. Bukan melupakanmu, aku hanya
menempatkanmu di pikiran paling akhir hingga nyaris tak pernah teringat lagi. Bukannya
aku menyerah, tapi akhirnya aku sadar bahwa sebenarnya, dari awal kamu memang
tidak pernah bisa aku menangkan. Aku sadar, aku hanya melihat ke arahmu tanpa
mempedulikan banyak seseorang yang memprihatinkanku dari belakang,
mempedulikanku melebihi dirinya sendiri. Sampai aku mati rasa, seperti
kehilangan selera untuk mencintai siapapun lagi. Aku terlalu sibuk menutup hati
dan menguncinya sampai mengabaikan orang-orang yang berniat membuka hati itu
kembali dan bersedia menutup luka yang menganga akibat ulahmu itu. Walau kamu
berniat kembali, bukan untuk memilikiku tapi untuk memperbaiki persahabatan
kita yang retak karena perasaan bodoh yang aku rasakan, perasaan yang tak
seharusnya ada dan tumbuh dalam persahabatan, perasaan lebih dari seorang
sahabat, sekeras apapun kamu memperbaikinya, hal yang membuat sakit hati tidak
akan pernah bisa kembali seperti awal. Aku membencimu tapi aku juga masih
mencintaimu.
Sampai
pada akhirnya, aku bertemu seseorang, dengan pertemuan yang tak terduga,
mungkin itu jalan dari tuhan untuk mempermudah aku melupakanmu, agar aku tak
terlalu payah saat bangkit. itu adalah kebetulan yang indah. Tidak, tidak ada
kebetulan. Itu takdir yang sudah diatur tuhan. Cara tuhan mengatakan bahwa kamu
tidak pantas untukku, atau aku yang tidak pantas untukmu. Yang jelas, kita
tidak ditakdirkan menyatu. Selama 3 tahun ini, banyak yang berusaha membuka
hatiku, namun tak seorangpun yang mempunyai kunci yang cocok dengan gembok
hatiku. dia yang mempunyai kunci yang cocok dengan gembok itu dan membukanya
dengan perlahan tapi pasti, menutup lukanya sampai sekarang sudah hampir sembuh.
Ya memang belum sepenuhnya sembuh, Tapi setidaknya dia sudah berjuang
mendapatkanku, sudah berusaha keras membuatku tersenyum dan bahagia, dia yang
membantu aku bangkit sampai aku bisa berdiri lagi, membuat aku percaya akan
laki-laki dan percaya cinta lagi. Ya, mungkin memang untuk wanita lebih baik
dicintai daripada mencintai. Dia mencintai aku dengan sepenuh hatinya. dia
seperti malaikat pengganti yang dikirimkan tuhan untukku. Dia adalah alasan
untuk memulai semuanya dari awal lagi. Aku bersyukur memilikinya. Ternyata
membuka hati tak semenakutkan yang aku bayangkan, ternyata membuka hati membuat
aku bisa lebih bahagia. Kita saling melengkapi kekurangan, saling mendukung
satu sama lain, dan dia menghargai aku sebagai seorang wanita. Tidak
overprotective, tak saling menuntut dan tetap berjalan beriringan meraih
cita-cita bersama. Tetap memberi kebebasan kepadaku untuk beteman dengan siapa
saja asalkan tau batasannya, tau hatiku milik siapa. Aku pun begitu. Sederhana
namun indah. aku berusaha mencintai dengan hati bukan perasaan. Dia menjadi
malaikat pengganti yang sekarang ada di hatiku dan kamu tetap jadi teman namun
keadaannya tidak akan bisa seperti dulu, tak seakrab dulu. cukup mengenalmu dan
berkomunikasi secukupnya. I’m sorry, good bye :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar