LOVE APART
“kehidupan itu seperti
kita sedang berjalan di tengah jalan raya, kita tidak tahu apa yang akan
terjadi di depan kita. Kadang kita menemui jalan yang curam, berkelok-kelok,
kadang kita terkena jalan berlubang sehingga tidak bisa menghindar dan kadang
jalan itu begitu lurus, tanpa lubang apapun. Kita harus mampu mengambil hikmah
disetiap kejadiannya~”
“Beneran shill, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Dia
lagi bareng Intan di kantin. Mesra banget, ya aku cukup tahu lah, kayak ada ‘something happen’ gitu. Lagian itu
bukan kali pertamanya aku lihat Denny sama wanita lain” kata gadis berambut
pendek sebahu dan bermata bulat, persis seperti Dora. Dia adalah Dea, tetangga
dan sahabat Shilla dari kecil, dan kebetulan satu SMA dengan Denny, pacar Shilla.
“iya Dee, aku percaya kamu, thanks ya infonya” jawab Shilla,
Fakesmile.
“iya, Shill. Aku nggak maksud buat merusak hubungan kalian, nggak
tega aja lihat kamu dibodohin sama laki-laki nggak bener kayak Denny. Aku harap
kamu bisa berfikir logis, Shill”
“he’em Dee.”
Hujan badai di malam itu seakan turut merasakan kesedihan di
hati Shilla. Dia menghabiskan waktunya di kamar sampai pagi. Shilla menangis
sambil memetik gitarnya sembarangan, menghasilkan alunan yang tak jelas nadanya
namun sangat sendu, begitu menyayat hati. bukan karena meratapi nasib kisah
cintanya yang tidak happy ending seperti di novel-novel romance, tapi karena
dia menyesali betapa bodohnya dia yang terlalu mempercayai Denny. Sebenarnya
sudah sering terjadi kejanggalan di kelakuan Denny setiap mereka bertemu
akhir-akhir ini, namun Shilla selalu menepis dalam-dalam rasa curiga nya itu.
Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk terlalu mempercayainya semudah itu,
tetapi kepercayaan itu disia-siakan Denny begitu saja, bagai “Air susu dibalas
air tuba”.
Keesokan harinya Shilla baru membuka handphonenya. 10 sms dan
20 Missed calls yang semuaya dari Denny.
Denny
085786xxx
Shill, kamu kenapa sih?
Aku salah apalagi? Please, jangan diemin aku kayak gini, ini nyiksa. Kalo aku
salah, kita omongin baik-baik, aku nggak mau berantem sama kamu.
Shilla terkekeh membaca sms itu. “dia bilang nyiksa? Gila tuh
orang, kapan sadarnya.
Sebenarnya
siapa sih yang tersiksa?” keluh Shilla. Dia sengaja membiarkan Denny menyadari
kesalahannya sendiri, namun tampaknya dia tidak akan pernah sadar sebelum dia
di beritahu dan bila perlu ditampar. Akhirnya Shilla membalas: Sadari
kesalahanmu sendiri, cobalah Introspeksi diri ! J
ah, lagi-lagi fakesmile.
Matahari senja di pantai itu begitu indah di depan mata,
dengan torehan warna jingga yang menyusup di balik pohon-pohon kelapa, begitu mempesona setiap manusia yang melihatnya.
namun tidak dengan Shilla. Gadis itu duduk sendiri di antara batu karang ,
membiarkan kakinya terkena ombak-ombak kecil yang saling berkejaran, melamun
kemudian berbicara dengan si matahari jingga seakan-akan senja itu mendengarkannya dan mengerti apa yang
dirasakan Shilla. Sakit itu masih terasa, luka itu belum sepenuhnya pulih,
malah masih segar seperti baru saja terjatuh di suatu lubang yang dalam. YA ! gadis
itu baru saja mengalami kejadian pedih khas para remaja, patah hati. Lelaki
yang begitu dipercayainya, memilih gadis yang tidak jelas asalnya. Menurut
Shilla, gadis itu memang lebih cantik
darinya. Tapi apakah cinta sejatinya hanya memandang fisik ? ah, lelaki.. semuanya sama. shilla
beranggapan bahwa pencuri hati, kejahatan sejati. Sejak saat itu, dia seperti menutup diri dan
hatinya dari pria manapun.
Shilla memutuskan untuk mengakhiri semuanya agar dia tidak
tersakiti lebih jauh lagi, kali ini dia harus bertindak tegas agar bisa bernafas
lega. Shilla mengajak Denny bertemu di “coffe
break” dan Denny menyetujuinya.
“jadi, sudah berapa kali kamu selingkuh di belakangku?” Tanya
Shilla. Langsung to the point. Mereka kini sudah duduk berhadapan didalam café
yang bernuansa klasik itu. Sebenarnya suasana kafe begitu menenangkan hati,
romantic dengan dikelilingi banyak lilin dan bunga mawar yang menghiasi di
setiap sudut ruangannya. Namun sangat bertolak belakang dengan suasana hati
Shilla, sakit, sedih, resah, gundah, bercampur menjadi satu.
“oke, aku jujur, 3 kali. Tapi itu aku nggak sengaja, itu
karena pengaruh teman-temanku, Shill. Aku khilaf” jawab Denny.
“dan aku percaya?” Shilla terkekeh mendengar jawaban itu.
Klise, sangat klise. “nggak sengaja kok bisa berulang-ulang, khilaf kok sampai
3 kali. Denny, kamu pikir aku sebodoh itu?”
“maafin aku Shill. Aku janji nggak akan ngulangin lagi”
“dan sekali lagi, aku harus percaya janjimu ? kamu tahu ?
usang sekali janjimu, Den. Seperti pakaian yang udah nggak dipakai
bertahun-tahun”
“terus kamu maunya gimana, sayang? Sumpah, aku cuma sayang
kamu. Aku nggak mau pisah sama kamu.”
“maunya aku? Ya jelaslah kita akhiri sampai disini.”
“please, beri aku kesempatan satu kali lagi, Shill.”
“hey, aku sudah memberimu kesempatan berkali-kali, aku nggak
bodoh buat ngasih kesempatan lagi. Oke, cukup penjelasanmu. Thanks buat
semuanya, buat dua tahun ini, Den. Bagaimanapun juga kamu pernah memberi warna
dihidupku. Bye J”
Shilla melangkah
pergi, keluar dari kafe itu dengan perasaan yang pedih namun juga lega. Dia
tidak memperdulikan Denny yang masih belum putus asa untuk meminta kesempatan
lagi. Shilla memang cukup tegar di depan Denny, karena dia berprinsip bahwa
menangis di depan seorang laki-laki yang bahkan sudah menyakitinya adalah hal
yang tidak berguna dan membuat wanita menjadi semakin lemah di depan para
laki-laki. Namun sebenarnya, sepanjang perjalanan pulang, dia tidak berhenti
meneteskan air mata.
Menangis semalam takkan mengubah keadaan, namun Shilla sudah
berjanji akan menumpahkan semua rasa sakit dan penyesalannya hanya untuk malam
itu dan esok ia akan terbangun dengan senyuman serta berkata “aku baik-baik saja, bahkan sudah
jauh lebih baik dari sebelumnya”. Dia membakar semua kenangan bersama Denny.
dan di sudut gelap matanya, air mata terakhir itu menetes. Dia memang tipe
seorang gadis yang tidak terlalu larut dalam kesedihan dan selalu bisa
memotivasi diri sendiri. Sebenarnya dia adalah seorang gadis yang cantik, dengan
mata yang agak sipit, hidung mancung dan kulit kuning langsat khas wanita
Indonesia yang sebenarnya sangat menarik bagi kaum lelaki, namun terlihat biasa
saja karena ia tidak suka merias diri sehingga kecantikannya tertutup oleh
kesederhanaannya, masih tersimpan dan hanya lelaki yang benar-benar tulus yang
bisa melihat inner-beauty nya.
Mentari pagi mencoba membangunkan Shilla lewat celah-celah
jendela kamarnya. Sinarnya seakan menyapa wajah Shilla namun sangat menyilaukan
mata sehingga mengganggu ketenangan tidurnya. Udara pagi ini sebenarnya sejuk
dan sangat bagus untuk olahraga, tapi entah mengapa Shilla sangat malas untuk
melakukan kegiatan yang hampir setiap hari dia lakukan itu. Jangankan berolah raga,
berangkat ke sekolah saja ia sangat malas, tidak ada semangat lagi. Shilla
terbangun dengan lingkaran gelap dan agak membesar di kedua matanya. Iya, mata
panda. mata yang disebabkan karena menangis semalaman.
“selamat pagi”, sapa shilla, mencoba kembali ceria seperti
biasa. Dia sudah tiba di sekolahnya, lebih awal dari biasanya. Entah mengapa,
ia ingin menyendiri di kelas tetapi malah bertemu Keyla.
“hey, pagi
juga. Tumben nyapa.. Kamu kenapa shil ?” jawab seorang gadis berambut ikal
panjang yang sedang sibuk mengerjakan tugas fisika. Dia adalah Keyla, sahabat
Shilla di SMA nya.
“Ha ? enggak
apa-apa kok, key. Hehe” alibi Shilla, mencoba tetap tertawa di depan sahabatnya
itu.
Keyla
menghentikan aktivitasnya dan tersenyum menatap sheilla, “sudahlah, shill. Kamu
fikir kamu bisa bohong sama aku? mata bengkakmu itu udah kebaca kalo kamu itu
sedang tidak baik-baik saja “, sanggah keyla.
“hehe.. oke
deh aku jujur, aku sedang tidak baik-baik saja”
“pokoknya pulang
sekolah nanti kamu ke rumahku, kamu
harus menceritakan semuanya”, ancam Keyla sambil nyengir kuda, kuda lumping
tepatnya.
“iya deh,
iyaa” jawab Shilla, pasrah. dia sudah menebak sabahatnya itu akan tau alibinya.
Sebenarnya dia sudah tidak ingin membahas Denny lagi.
“nah gitu
dong. hehe” jawab keyla sambil melanjutkan nulis jawaban PR fisika dari temannya
itu.
Tak lama
kemudian, guru fisika datang dan pelajaran dimulai.
“jadi gimana ceritanya ?” tanya
keyla. Mereka berdua kini sudah duduk di teras rumah keyla, menikmati cappucino
panas diantara hujan yang tiba-tiba turun tanpa permisi.
Shilla
menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tanpa air mata, rupanya ia
menepati janjinya, menangis hanya untuk satu malam.
“oh jadi
gitu ceritanya. Ternyata si Denny itu jahat banget ya, aku gak nyangka. Hmm.. Aku
tau kamu kuat kok, Shill. Kamu nggak akan bodoh buat mengingat dia lagi.
Berarti Allah masih sayang kamu dengan menunjukkan kelakuan dia”, kata Keyla.
“iya, aku
udah nggak apa-apa kok. Bahkan aku bersyukur dengan kejadian ini. Aku jadi bisa
lebih berhati-hati untuk kedepannya lagi, lebih bisa selektif untuk memilih
pasangan” jawab shilla. Lalu dua sahabat sejoli itu pun berpelukan.
“karena terkadang ada beberapa hal
yang tidak bisa dipaksakan dan mencoba bertahan dalam simbol keikhlasan adalah
yang terbaik, berharap indah pada akhir cerita~”